Warung Internet

Kamis, 01 Maret 2012

UPAYA PENINGKATAN KEPEMIMPINAN PERWIRA DALAM RANGKA PEMBINAAN SATUAN DI BATALYON

| Kamis, 01 Maret 2012 | 0 komentar


BAB I

PENDAHULUAN



1.         Umum. Dalam upaya menciptakan TNI-AD yang tangguh, Panglima TNI telah mencanangkan pemantapan satuan-satuan secara bertahap. Batalyon mendapatkan urutan pertama dalam pembenahannya, karena merupakan inti kekuatan, dalam upaya ini sasaran akan tercapai dengan baik dan berlanjut, apabila perwira sebagai personil pimpinan dalam organisasi tersebut mampu melaksanakan peranannya dengan mantap dan penuh.

2.         Maksud dan Tujuan.
a. Maksud.        Tulisan ini bermaksud menyegarkan kembali pengertian kita akan peranan Perwira dalam satuan setingkat Batalyon serta menelaah kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaannya.
b. Tujuan.         Mendapatkan beberapa bahan pemantapan Perwira guna mencapai keberhasilan tugas pokok.

3.         Ruang Lingkup. Ruang lingkup ini berisi garis-garis besar peranan Perwira dalam satuan, dan disusun dengan urutan sebagai berikut :
a.        Pendahuluan
b.        Kondisi kepemimpinan Perwira di satuan
c.        Faktor yang mempengaruhi
d.        Kondisi kepemimpinan Perwira yang diharapkan
e.        Kesimpulan dan saran
f.         Penutup

4.         Pendekatan. Pembahasan tulisan mempergunakan pendekatan secara praktis pragmatis, terbatas pada satuan setingkat Batalyon.


BAB II

KONDISI KEPEMIMPINAN PERWIRA DI SATUAN



5.         Perwira, sebagai kelompok pimpinan utama dalam satuan, sangat besar peranannya. Besar kecilnya daya guna dan hasil guna satuan sangat tergantung dari mutu Perwiranya. Perbedaan nyata antara Perwira Batalyon dengan Perwira satuan Atasan adalah bahwa Perwira Batalyon setiap saat berhubungan langsung dengan Bintara dan Tamtama sebagai pelaksana tugas dan langsung menangani peri kehidupan mereka, sementara Perwira Satuan Atasan sangat jarang bertatap muka dengan anggota pelaksana, dan hubungan dilaksanakan secara tidak langsung yaitu lewat pejabat Batalyon atau tertulis.

6.         Perwira memangku jabatan Komandan Kesatuan, Perwira staf, Perwira ahli, guru Militer atau petugas khusus.
Dalam lingkungannya ia bertindak sebagai pejabat, pemimpin, guru, bapak, kawan/rekan, penasehat atau anggota biasa; selain itu ia juga bertindak sebagai kepala keluarga, anggota masyarakat dan warga negara. Namun karena bentukan, pengalaman dan penugasannya, seorang Perwira mempunyai penampilan, corak hidup dan cara bertindak berbeda dengan kelompok lain dan warga masyarakat pada umumnya.

7.         Tidak dapat dihindari lagi bahwa seorang Perwira harus mahir dan mampu, bersifat umum dan menyeluruh. Dia harus menguasai dengan baik, mampu mengajarkannya, kepada anggotanya, dan mampu meningkatkan mutu kesatuannya. Bila dia tidak mahir, kepada siapa anggota kesatuan akan bertanya bila menghadapi kesulitan : sementara Perwira satuan atasan sudah lebih jauh lagi meninggalkan
masalah, dan personil ahli di lembaga pendidikan jauh kedudukannya.

8.         Hasil pendidikan dan latihan hendaknya digunakan sebagai jaminan sementara bagi seseorang, dan bukannya jaminan mutlak kemampuan seseorang dalam tugas jabatannya. Pernah diajar, pernah membaca, atau mendapat nilai 80 dalam ujian belum menjamin kemahiran seseorang. Kemahiran diperoleh ini dapat berhasil dengan baik apabila para Perwira berperan secara aktif. Batalyon adalah tempat yang paling untuk saling asah, saling asih dan saling asuh. Bila hasil didik lembaga pendidikan dan latihan tidak dimatangkan di kesatuan, kemungkinan akan berkembang ke arah negatif, antara lain kurang mampu dalam jabatan dan munculnya “pemain alam”.



BAB III

FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM SATUAN



9.         Pimpinan dalam satuan

a.           Selain bermodalkan kemahiran tehnologi yang tinggi, kerapihan dan ketelitian pembinaan kesatuan sangat diperlukan pimpinan yang dengan kepemimpinannya yang berhasil akan mampu mengendalikan pertempuran tersebut dan dapat membawa pasukannya menuju kemenangan dengan penuh keberuntungan.

b.           Kepemimpinan merupakan seni tersendiri dalam kehidupan manusia, untuk mempengaruhi, membimbing dan menggerakkan orang-orangnya maju ke medan pertempuran untuk membunuh dan dibunuh, atau mengerjakan pekerjaan dengan gagah berani, mengabaikan bahaya dan kematian, dan mengesampingkan kepentingan pribadi penuh kepatuhan, ketaatan, kepercayaan, penghargaan, kesetiaan dan keikhlasan.
c.            Cara menggerakkan orang lain untuk rela maju perang mungkin berupa pidato yang mengobarkan fanatisme bidang Ipleksosbud terutama agama, janji-janji kesejahteraan dimasa  mendatang, bahkan berupa buku yang berisi gagasan dan himbauan. Bagi Pimpinan Batalyon, karena langsung berhubungan dengan anak buahnya, maka cara menunjukkan keberanian diri seorang pimpinan adalah yang terbaik.


10.      Membentuk Pimpinan

a.            Bagaimana seseorang dapat menjadi pimpinan, dapat dibedakan dalam 3 kategori.

1)        Yang membentuk diri sendiri. Lahir sebagai pemimpin karena bakat dan panggilan sejarah. Banyak pemimpin perang yang timbul dengan cara ini mendapatkan sukses besar.

2)        Yang dipilih oleh kelompoknya.

3)        Yang ditunjuk oleh pimpinan atasannya.

b.            Mengingat kebutuhan dan peraturan, maka pemimpin di Batalyon adalah ditunjukkan oleh pimpinan atasannya, oleh karena itu perlu dimatangkan sehingga memiliki sifat-sifat pemimpin yang baik.

11.      Sifat-sifat pemimpin dan kepemimpinan 
a.            Mengenal sifat-sifat pemimpin dan kepemimpinan, memungkinkan seseorang tumbuh berkembang menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin seyogyanya mempunyai seorang tokoh favorit, untuk kemudian diikuti gerak


langkahnya. Mungkin tokoh favoritnya adalah Nabi Muhammad SAW, Pangeran Diponegoro, Panglima Besar Sudirman, seorang tokoh dalam perang dunia I dan II.

b.            Teori serba sifat tentang pemimpin dan kepemimpinan sangat banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh peneliti ilmu pengetahuan, yang penjumlahannya “ideal types” yang ada dalam khayalan belaka.

c.            Seorang ilmiawan mengemukakan 2 segi saja penonjolan seorang pemimpin, yaitu :

1)        Penonjolan pribadi di bidang tehnik kepemimpinan.
2)        Penonjolan pribadi dalam tekad, keuletan dan keberanian.

d.            Dalam teori kepemimpinan diutarakan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu :
1)        Berpengetahuan dibidang tehnik dan sosial.
2)        Keberanian baik fisik maupun mental.
3)        Inisiatif.
4)        Kecakapan mengambil keputusan.
5)        Bijaksana.
6)        Adil.
7)        Sikap yang baik.
8)        Dapat dipercaya.
9)        Tahan menderita.
10)     Gembira.
11)     Telah tidak mementingkan diri sendiri.
12)     Jujur.
13)     Setia.
14)     Berpertimbangan.

e.            Azas-azas kepemimpinan yang telah kita kenal adalah 11 Azas Kepemimpinan dan11 Azas Kepemimpinan Militer pada umumnya, merupakan pedoman kita dalam memimpin anak buah. Adapun 11 Azas kepemimpinan itu ialah :
            1)         Taqwa adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya.
                        2)         Ing Ngarso Sung Tuladha, memberi suri tauladan di hadapan anak buah.
            3)         Ing Madya Mangun Karsa, yaitu ilut bergiat serta menggugah   semangat di tengah-tengah anak buah.
            4)         Tut Wuri Handayani, yaitu mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah.
            5)         Waspada Purba Wasesa, yaitu selalu koreksi kepada anak buah.

            6)         Ambeg Parama Arta, dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
            7)         Prasaja, yaitu tingkah laku yang sederhana yang tidak berlebih-lebihan.
            8)         Setya, yaitu sikap loyal yang timbul balik dari atasan  ke bawahan terhadap atasan ke samping.
            9)         Gemi Nastiti, yaitu kesadaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan.
            10)      Belaka, yaitu kemampuan kerelaan dan kebaranian untuk mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya.
11)      Legawa, yaitu kemampuan kerelaan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukannya kepada generasi berikutnya

12.      Type Kepemimpinan
a.            Tidak semua teori kepemimpinan dapat dilaksanakan di semua bidang tugas. Seseorang berhasil dengan kepemimpinannya, apabila terlihat tingginya disiplin, moril, jiwa kesatuan dan kecakapan anggota.

b.            Ada 6 type kepemimpinan yang pernah dipraktekkan orang yaitu :
1)        Pribadi ada kontak pribadi antara si pemimpin dengan yang dipimpin. Type ini sangat efektif. Pemimpin selalu melaksanakan kepemimpinan ini.

2)        Non Pribadi melewati pemimpin bawahannya atau memimpin dengan mengeluarkan rencana, instruksi sumpah dan janji.

3)        Otoriter Kepemimpinan adalah hak pemimpin, ia dapat menentukan dan berbuat segala sesuatu. Suasana dapat tenang dibidang Militer, melaksanakan kepemimpinan otoriter konstruktif.

4)        Demokrasi. Anggota turut memberikan pendapat mereka. Baik apabila golongan tersebut terdiri orang-orang yang cerdas dalam bidang sosial, TNI melaksanakan kepemimpinan demokrasi konstruktif.

5)        Paternalis. Memimpin seperti bapak terhadap anaknya biasanya anggotanya tidak dapat berkembang.

6)        Kelompok, biasanya digunakan dalam kumpulan olahraga dan sejenis.

c.    Prinsip- prinsip kepemimpinan militer
1)      Mempunyai kecakapan teknis dan taktis.
2)      Mengenal diri sendiri, cari dan usahakan selalu perbaikan-perbaikan.
3)      Yakinkan diri bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalankan.
4)      Ketahui anggota bawahan dan jaga serta pelihara kesejahteraan mereka.
5)      Usahakan dan pelihara selalu agar anggota mendapatkan keterangan-keterangan yang diperlukan.
6)      Berikan contah dan tauladan yang baik.
7)      Tumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan para anggota.
8)      Melatih anggota-anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak.
9)      Buat keputusan-keputusan yang sehat dan tepat pada waktunya.
10)   Berikan tugas dan pekerjaan, komando sesuai kemampuannya.
11)   Bertanggung jawab kepada tindakan-tindakan yang dilakukan.



13.      Citra Perwira

a.            Dalam salah satu ceramahnya, Jendral TNI Widodo mengupas masalah keperwiraan, untuk memberikan dasar bagi dan fungsi perwira muda dalam pembangunan dan pengembangan satuan.

b.            Ada 3 jenis citra, yang bertalian dengan latar belakang kebudayaan suatu Bangsa.

1)        Citra pertama : memandang keprajuritan hanya suatu ketrampilan belaka. Siapapun dapat menggunakan asal sanggup membayar. Lingkungan kebudayaan yang mempunyai penilaian ini adalah kebudayaan Eropa dan Cina.

2)        Citra kedua, memandang keprajuritan dan keperwiraan bukan sekedar ketrampilan, tetapi peran yang ditentukan oleh takdir kepada manusia, untuk menunaikan suatu misi yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya sendiri, ini adalah kebudayaan hindu, dimana kesatria menduduki kasta kedua.

3)        Citra ketiga, memandang kesatria sebagai kewajiban moril setiap pria dewasa untuk membela kaumnya, yang merupakan kehormatan yang harus dijunjung tinggi, ini adalah kebudayaan arab, tidak ada kelas tertentu.

c.            Perkembangan sejarah menunjukkan bahwa kita dapat mengenal pola Eropa dan Cina, tetapi lebih mendekati pola Hindia Arab, yang memandang Prajurit adalah kekesatriaan dan keberanian, kehormatan, bukan centang atau tenaga bayaran. Prajurit kita merasa mendapat kehormatan bila di ikut sertakan dalam setiap operasi. Operasi prajurit kita tidak pernah mempersoalkan haknya: gaji perlengkapan perumahan diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan atasan tanpa tuntutan.

d.            Rakyat akan peka dan sedih bila melihat prajurit, terutama Perwiranya, ada yang mementingkan hidup mewah daripada penunaian misinya yang luhur. Seorang anggota yang korup lebih mendapat sorotan daripada para pejabat bukan. Prajurit yang mementingkan materi berarti sudah diperbaharuhi oleh kebudayaan Eropa dan Cina, dimana pandang aneh bila melihat Perwira yang sedang berkuasa hidupnya sederhana.

e.            Banyak pengamat ahli yang bertanya, apa rahasia kesuksesan dalam menunaikan misinya. Mengapa dengan kondisi yang jauh dari sempurna, mampu menyelesaikan tugas, sedangkan Angkatan Bersenjata negara lain yang lebih modern persenjataannya gagal total dalam tugasnya. Kita sebagai pimpinan jangan sampai kehilangan modal berharga ini, dan harus kita pupuk terus. Hindari penggrogotan secara langsung maupun tidak langsung lewat kebudayaan asing.

f.             Pancasila, Sumpah Pemuda, Saptamarga, Kode Ethik Perwira, Delapan wajib, Sebelas asas kepemimpinan, Dwi fungsi, dan kemanunggalan rakyat harus kita pahami hayati dan amalkan semaksimal mungkin.



BAB IV

KONDISI KEPEMIMPINAN PERWIRA YANG DIHARAPKAN



14.      Hasil akhir suatu kegiatan diukur dengan kemenangan yang diperolehnya. Namun untuk mendapatkan kemenangan tersebut, tidak cukup mengharapkan nasib baik saja, tetapi mempersiapkan segala sesuatu semaksimal mungkin. Mampukah suatu satuan mengikuti perkembangan tehnologi, dapatkah menjadi wadah doktrin sebaik-baiknya, mampukah selalu menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya, ini merupakan tantangan kehidupan satuan tersebut. Dimana Perwira sebagai pimpinan utama kesatuan dituntut untuk berperan semaksimal mungkin demi terwujudnya keberhasilan tugasnya.

15.      Setiap Perwira harus memberikan andilnya dalam meningkatkan kemahiran tehnologi kesatuannya, dan menjadi pemimpin yang tangguh.

16.      Setiap satuan harus terisi oleh Prajurit-prajurit yang tinggi disiplinnya tinggi moralnya, besar jiwa kesatuannya dan tangguh, tanggap, tanggon dan trengginas dalam tugasnya.

17.      Dari Batalyon akan akhir pemimpin-pemimpin yang baik untuk negara dan bangsa dimasa kini dan yang akan datang, yang memahami dan menghayati secara mendalam citra bangsa tentang keprajuritan yang manunggal dengan rakyat, yang waspada terhadap perkembangan keadaan/lingkungan yang mungkin membawa kehancuran citra bangsa.

18.      Setiap Perwira harus mampu menelaah dan menerima kritik, demi kebaikan dimasa mendatang; lenyaplah segera tingkah laku yang tercela pada diri sendiri, pada lingkungan dan pada seluruh kesatuan.

19.      Setiap Perwira harus manunggal dengan prajurit dan keluargaya, tidak membuat perbedaan yang akan membuat jurang pemisah.
Perbedaan para anggota hanya didasarkan atas pangkat, jabatan, tugas dan tanggung jawab.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN



20.      Kesimpulan
Dari uraian pembahasan Peranan Kepemimpinan Perwira dalam pembinaan satuan ditemui adanya faktor yang mendukung dan yang menghambat sehingga diperlukan peningkatan kepemimpinan perwira dalam menjalankan tugasnya guna mendukung pelaksanaan tugas pokok.

21.      Saran
Dari uraian dapat disarankan sebagai berikut :
a.            Perlu adanya peningkatan kemampuan kepemimpinan perwira dalam menjalankan tugasnya.
b.            Perlu adanya peran aktif perwira dalam setiap kegiatan di satuan.






BAB VI

PENUTUP


22.      Penutup
Demikian karangan militer ini dibuat untuk dipergunakan sebagai pertimbangan dalam peningkatan peranan kepemimpinan perwira dalam pembinaan satuan. Adapun kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan karangan militer ini dimasa mendatang.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com